Inaccurate Database ruin everything..

Tahukah kalian bahwa otomatisasi system akan hancur tanpa database yang akurat ?

Trust me, teori otomatisasi bisa mempercepat dan mempermudah suatu pekerjaan itu bullshit kalau kita tidak bisa menyediakan database yang akurat. Yang ada, kamu cuma akan mapping, then spot the mistake or error, then reverse it, then running it, then mapping again, then making sure that finally the data is valid. Yeaaaaahhh right, talking about efficiency.

Nah, yang paling ngeselin itu, kalau posisimu ada di bagian dimana kamu hanya me-running system, sementara tanggung jawab database itu nggak ada di kamu. Dan yang punya database itu luar biasa demanding. Padahal udah dibilangin ya berkali-kali, “Ibu, Bapak, kalau datanya mau bagus dan lancar, awal bulan sudah dapat kami provide, mohon dibenahi dulu database-nya. Jadi kami juga tidak kesuliatan dalam merekap data.”. Kayanya kata-kata itu harus direkam deh, trus diputer terus di kantor mereka, biar mereka inget bahwa database mereka itu WAJIB dibenahi dengan SEGERA. Tapi kalau datanya masih kayak gini, nggak ada perubahan, maaf deh Pak/Bu, saya cuma bisa bilang ‘Sabar, kami sedang proses datanya karena masih ada kesalahan data dalam dokumen yang dihasilkan’.

So, intinya, inaccurate database = automatic system failure = inefficiency. Jadi nggak perlu-lah repot repot mengubah sistem jadi otomatis kalau nggak bisa memenuhi syarat-syarat utama yang dibutuhkan, yang salah satunya DATA yang AKURAT.

– taking from my tumblr.-

My first published paper,

Unbelievable. Well, that’s all I can say, haha.

Kejadian kemarin diawali dua minggu yang lalu. Aku, yang membutuhkan surat rekomendasi dari dosenku, dengan terburu-buru membuat paper yang dimintanya tiga bulan lalu. Nggak mungkin ‘kan aku datang ke depan dosenku minta surat rekomendasi dengan tangan kosong sementara aku masih punya janji untuk menyerahkan paper kepada beliau. Akhirnya, dengan susah payah, pinjem laptop sana-sini karena komputer rusak total, dan ngelembur sampai tengah malam, paper itu jadi juga.

Datang pagi-pagi ke kampus dengan perasaan dag-dig-dug karena harus minta surat rekomendasi, aku ternyata disambut dengan cukup hangat oleh dosenku. Aku jadi tenang, hohohohoho. Melihat paper yang kubawa, tiba-tiba dosenku berkata, “Kamu mau ikut seminar ? Dua minggu lagi ada seminar nasional di kampus, kamu masukkin aja paper kamu ini. Penelitian orang lain juga kurang lebih sama dengan kamu, jadi nggak usah takut.”. Ups, O.O, seminar ?! Wow, tawaran yang menarik banget, tapi sebagian dari diriku, mmm, bisa dibilang takut. Presentasi di depan orang asing ? Hmmm, it’s actually a big no no for me, hahaha. Tapi akhirnya dengan beberapa pertimbangan – lumayan juga ‘kan paper mu diakui, dapet ISBN, bisa dimasukkin CV – akhirnya tawaran ikut seminar itu kuterima.

So yesterday, there I was, in a building in front of GSP, ready to give presentation about my experiment. I was so nervous that I couldn’t eat well (what ?! that was just too much, hahaha). Dengan segala masalah yang kemudian muncul, mulai dari kesalahan peng-cluster-an untuk paper-ku hingga jadwal presentasi yang bentrok dengan psikotes, akhirnya ditetapkan bahwa aku presentasi setelah coffee break pagi. 두근두근 my heart was beating fast, hahaha.

Alhamdulillah, setelah itu semua berjalan lancar. Walaupun dengan nervous setengah mati, aku berhasil melalui presentasi dengan cukup baik dan menjawab dua pertanyaan yang muncul – fiuhhh, ternyata ada yang mau nanya. Sambil menunggu lunch break dan menyimak pemakalah-pemakalah selanjutnya, aku melihat ke arah pembawa acara, yang notabene anak ’09, yang duduk di sebelah moderator. Kurang lebih tiga tahun yang lalu aku duduk di posisi itu, di salah satu seminar lain yang diadakan jurusanku, dengan bingung dan kagum memandangi para pemakalah. Nggak pernah sedikitpun aku berpikir bahwa kemudian aku akan duduk di salah satu kursi di depanku sebagai salah seorang yang memberikan presentasi. It’s just unbelievable and, indeed, funny. Funny how life brings us to somewhere you’ve never imagine before.

Akhirnya aku lagi-lagi berpikir, life is full of surprise. Sesuatu bisa datang begitu aja tanpa diduga, walaupun itu juga nggak terlepas dari usaha yang udah kita lakukan siy. Hmmm, jadi kapan ya aku bisa menjejakkan kaki di Incheon ? Hehehehehe…

note 30.07.15 : and 5 years later, I finally went to South Korea.

Harry potter and the deathly hollows

Hmmm, baru tiga hari belakangan ini aku mulai baca buku terakhir dari serial Harry Potter. Telat ?? Wuihh, telat banget. Tapi apa daya, mood nya baru muncul sekarang, hehehe… Dan gara-gara baca buku itu, sekarang aku meneteskan air mataku, untuk kesekian kalinya. Duh… I become so sensitive lately, just because Harry Potter’s story. Tapi kuakui ceritanya, plotnya, karakternya, dan penjabaran setiap keadaannya bener-bener keren. Dibuat dengan penuh perhitungan (I have no idea how to express it in a word..). Salut banget sama J.K. Rowling dan caranya membuat buku itu…